Sejarah Tidak Relevan untuk Hari Ini? Sebuah Refleksi dari Essay LPDP S3

Oktober 2013, sore itu nyaris seperti sore-sore yang lain menjelang akhir pekan, saya menuju bergegas ke terminal untuk pulang ke kampung halaman di Mayong Jepara. Beruntung masih ada kursi kosong, saya kemudian duduk sembari sedikit mengatur alur napas sehabis berlari mengejar bus ukuran tiga perempat tujuan Semarang-Jepara yang hampir berangkat. “Dari mana, mbak? Kuliah atau kerja?” Seorang wanita paruh baya yang duduk di sebelah kursiku memulai percakapan. “Saya dari Tembalang, buk. Saya kuliah.”  Sejurus kemudian, beliau menanyakan pertanyaan lanjutan. Kuliah di jurusan apa, mbak?” “Saya kuliah di Sejarah, bu.” jawabku lirih. “Sejarah berarti hapalan tanggal dan tahun nggih, mbak?” Sudah selusin lebih saya menjalin percakapan yang sama di dalam bus dengan orang-orang yang berasal dari berbagai latar belakang. Sayangnya, dengan respon yang serupa. Barangkali, respon itu merupakan gambaran dan impresi yang tertanam di alam pikiran mengenai mata pelajaran sejarah, penuh dengan deretan nama-nama besar, tanggal, dan tahun-tahun kuno yang diyakini tidak memiliki relevansi untuk hari ini. Ilmu Sejarah begitu berjarak dengan masyarakat. Tampak kurang kontributif dalam menyelesaikan persoalan aktual bangsa yang membutuhkan pemecahan kasat-mata dan segera.

Nama saya Fanada Sholihah, lahir pada bulan Februari 1996 di Pancur, sebuah desa tidak jauh dari tempat kelahiran R.A Kartini di Jepara. Sejak 2020 hingga saat ini, saya bekerja di Program Studi Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Diponegoro sebagai Dosen Luar Biasa. Saya mengajar beberapa mata kuliah, antara lain Sejarah Kontemporer Indonesia, Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia, Metode Penelitian Sosial, dan Internet of Things. Pekerjaan sebagai dosen merupakan impian besar saya sejak duduk di bangku sekolah menengah atas, meskipun tidak berstatus sebagai dosen tetap, saya merasa telah menemukan jiwa saya dalam profesi ini. Hal inilah yang mendorong saya untuk menjalankan setiap tugas dengan penuh tanggung jawab dan sungguh-sungguh. Selama menjadi dosen pengampu mata kuliah Metode Penelitian Sosial, saya juga berkesempatan mendampingi dan membimbing lebih dari seratus mahasiswa untuk melaksanakan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) di lokasi penelitian. Saya juga diberi tanggungjawab menjadi tim editorial untuk mempublikasikan hasil riset mahasiswa dalam bentuk buku ber-ISBN, salah satunya adalah buku berjudul Problematika Sosial Kala Pandemi Jilid I, diterbitkan oleh Center for Asian Studies FIB UNDIP pada 2022.

Sejak menempuh Pendidikan S1, saya terlibat dalam proyek digitaliasi arsip kolonial Belanda yang diinisiasi oleh Corts Foundation Belanda dan Arsip Nasional Republik Indonesia dari tahun 2015-2017. Dalam proyek tersebut, saya bertugas membuat database Corpus Diplomaticum Neerlando Indicum (6 jilid) yang membantu para peneliti untuk mendapatkan informasi diplomatik antara pemerintah kolonial Belanda dengan penguasa lokal. Selain dalam bidang akademik, saya juga aktif dalam kegiatan-kegiatan di luar kampus. Saya menjadi penyiar radio di Radio Republik Indonesia untuk program English Time sejak 2013-2018. Meskipun pekerjaan sebagai penyiar bersifat volunteering (tidak mendapat gaji), tetapi  saya tetap konsisten menjalankan pekerjaan tersebut selama 6 tahun. Dengan menjadi penyiar radio berbahasa Inggris, saya tidak hanya melatih softskill bahasa asing dan public speakingsecara kontinyu, tetapi juga juga mendapatkan gambaran luas tentang dunia luar melalui para narasumber yang datang dari  berbagai latar belakang kewarganegaraan. Tidak jarang, kami mengangkat isu-isu sosial-ekonomi yang terjadi, seperti kemiskinan, kesetaraan gender, krisis pangan, bencana alam, dan lainnya.

Ketertarikan pada isu-isu yang bertalian dengan kelompok marginal, mendorong saya untuk mendaftarkan diri sebagai Eksekutif Muda (Eksmud) di Divisi Pengabdian Masyarakat, Badan Eksekutif Mahasiswa tingkat Universitas pada . Selama menjadi Eksmud, saya pernah mendapat tanggungjawab sebagai Koordinator Acara untuk Undip Mengajar yang diselenggarakan di Cilacap selama 2 Minggu dari 3-17 Agustus 2015. Saya pula berkesempatan menjadi editor buku kompilasi berjudul Mendayung Mimpi Segara Anakan diterbitkan Tiga Media, 2015. Sebuah buku yang berkisah tentang eksperimentasi selama pengabdian di Cilacap, hidup bersama dengan masyarakat dan mengajar di SDN 01 Panikel dan SDN 03 Kampung Laut. Gerakan Undip Mengajar 3 (GUM3) berusaha membangun pendidikan dari perbatasan jateng dan jabar, desa Panikel dan Ujung Gagak Kampung laut, Cilacap.

Keingintahuan yang besar tentang sejarah maritim, mendorong saya untuk menelusuri lebih banyak persoalan kemaritiman, seperti sengketa perbatasan laut, perbudakan dan perdagangan manusia melalui jalur laut. Sebagai topik skripsi, say mengangkat kasus tentang aktivitas lintas batas nelayan Indonesia ke perairan Australia untuk menangkap komoditas berharga, seperti teripang dan sirip hiu. Bagian dari skripsi tersebut telah diterbitkan di Jurnal Nasional Terakreditasi. Saya lulus S1 di Universitas Diponegoro pada tahun 2017 dengan IPK kumulatif 3,83/4,00. Sadar bahwa kajian Sejarah Indonesia relatif luas dan menarik, memotivasi saya untuk melanjutkan studi pada Program Studi Magister Sejarah di Universitas Diponegoro pada 2017. Selama menempuh pendidikan, saya mendapatkan kesempatan sebagai Student Fellow pada program Asian Graduate Student Fellowship yang diselenggarakan oleh Asian Research Institute (ARI) bekerjasama dengan National University of Singapore pada tahun 2018. Program yang berlangsung selama 6 minggu tersebut, memberi kesempatan pada saya untuk mengasah kemampuan menulis melalui workshop Intensive Academic Writing Class. Saya juga berkesempatan untuk melakukan penelusuran data-data pada periode kolonial di National Archives Singapore Saya kemudian menerapkan pengetahuan dari workshop tersebut untuk menulis tesis S2 tentang tentang kolonialisme dan jaringan perbudakan di Timor pada abad ke-19. Pada tahun 2019, saya lulus dengan kumulatif IPK 4.00/ 4.00 dan mempublikasikan karya saya di Jurnal Nasional Terakreditasi.

Pengalaman penelitian sebelumnya, telah membentuk perspektif saya dalam memandang Sejarah Indonesia, dimana masing-masing aspek saling koheren, tidak terkecuali aspek ekologi. Bukti ini membuat saya termotivasi untuk menyelidiki lebih dalam mengenai persoalan ekologi terjadi di Indonesia.  Bersama dengan para kolega di UNDIP, saya menerbitkan artikel mengenai isu banjir di Kalimantan dalam Proceeding Internasional Terindeks Scopus, berjudul “Managing Socio-Economic Problems of the Wetland Environment in South Kalimantan” terbit pada E3S Web Conf. Volume 202, 2020.  Selain itu, juga menerbitkan artikel di jurnal Nature, Humanities and Social Sciences Communication tahun 2023, yang menelusuri lebih jauh mengenai relasi antara jiwa tolong menolong masyarakat pesisir dengan percepatan kesembuhan pasien COVID-19.

Pesoalan Ekologi di Wilayah Pesisir

Kebiasaan dalam merenungkan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat pesisir, telah memotivitasi saya agar dapat memberi kontribusi lebih, tidak hanya pada pengembangan ilmu pengetahuan tetapi juga rekomendasi bagi pemecahan masalah. Salah satu isu kesejarahan yang menarik dan urgen untuk diteliti adalah persoalan ekologi di Keresidenan Jepara dan Rembang. Saya ingin memulainya dengan menarasikan sebuah kejadian yang berlangsung ribuan tahun lalu di Kota kelahiran saya, Jepara. Kira-kira sepuluh ribu tahun lalu, ketika jazirah Sundaland berangsur tenggelam. Ada sebuah selat yang menjadi penghubung antara Pulau Jawa dan Pulau Muria, yaitu Selat Muria. Selat ini sempat menjadi lintasan paling sibuk bagi perdagangan interinsuler, yang disokong oleh beberapa kota dagang, seperti Demak, Jepara, Pati, dan Juwana. Namun, pada pertengahan abad ke-17, selat ini mengalami pendangkalan ekstrem. Sedimen fluvial dari beberapa sungai, antara lain Kali Serang, Sungai Tuntang, dan Sungai Lusi mengalir bebas ke Selat Muria hingga berakibat pada lumpuhnya aktivitas perdagangan. Kapal-kapal besar tidak dapat lagi melintasi selat tersebut. Melihat kondisi itu, penguasa lokal, Tumenggung Natairnawa dari Pati menginstruksikan penggalian sendimen di Selat Muria, namun intensitas endapan yang semakin tinggi menyebabkan tertimbunnya Selat Muria dan kemudian menghilang. Fenomena hilangnya Selat Muria menjadi salah satu bukti bahwa kondisi ekologi menjadi aspek penting dalam menunjang keberlangsungan aktivitas dagang. 

Seolah mengulang episode ribuan tahun lalu, persoalan sedimentasi masih menjadi isu sentral di wilayah pesisir Jepara dan Rembang. Pada tahun 2018, Pelabuhan Pantai Kartini Jepara, yang berada di pinggiran Jepara mulai mengalami sedimentasi hebat. Hal ini karena lokasi geografis Pelabuhan Jepara berada di kawasan muara sungai. Beberapa sungai membawa serta ribuan meter kubik material sedimentasi. Pengendapan sedimen di muara sungai juga terjadi di  Pelabuhan Tasikagung, berbatasan langsung dengan muara Sungai Karanggeneng di sebelah barat Rembang. Selain sedimen dari sungai, pasang surut dan arus laut turut menjadi faktor hidro-oseanografi yang mempengaruhi angkutan sedimen di sekitar pelabuhan Tasikagung. Saya memandang, ilmu sejarah perlu berkolaborasi dengan ilmu lingkungan untuk melihat sejauh mana perubahan ekologi ini membawa pengaruh pada aktivitas ekonomi masyarakat dan apa pola adaptasi yang ditempuh oleh masyarakat sekitar. Ketika masalah lingkungan mendominasi sebagian besar pelabuhan di Pantai Utara Jawa (Pantura), masyarakat lokal, khususnya para pedagang, nelayan, tidak tinggal diam dan berpasrah diri menerima takdir. Mereka tetap menggerakkan sektor industri kreatif melalui berbagai adaptasi, menghidupkan kerajinan ukir di Jepara dan batik di Lasem. Solusi teknis untuk mengatasi persoalan sedimentasi antara lain penggunaan sistem kontrol sedimentasi dan mendesain kembali struktur pelabuhan yang tepat dengan mempertimbangkan arus laut dan pasang-surut, tetapi hal yang juga krusial adalah pemberdayaan masyarakat pesisir untuk tetap bertahan hidup di lingkungan alam yang tidak bersahabat. 

Persoalan ekologi ini menjadi alasan yang kuat bagi saya untuk melakukan penelitian lebih serius, khususnya dalam format disertasi. Universitas Indonesia (UI) menjadi kampus tujuan untuk belajar karena merupakan episentrum ilmu pengetahuan, dengan banyak keunggulan. Mata kuliah yang ditawarkan, seperti Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Metodologi, Teori dan Metodologi Ilmu Pengetahuan Budaya, dan Teori dan Metodologi Sejarah juga sangat penting untuk memperdalam pemahaman mengenai kerangka teoritik yang sesuai dengan isu yang saya angkat. UI juga memiliki tenaga pengajar dengan spesialisasi sejarah maritim, seperti Prof. Dr. Susanto Zuhdi dan Dr. Yuda Benharry Tangkilisan. Selain itu, UI juga dilengkapi dengan perpustakaan dengan koleksi fantastis. Perpustakaan Universitas Indonesia merupakan perpustakaan terbesar di Asia Tenggara dengan jumlah koleksi buku mencapai 3,6 juta judul. Kelebihan-kelebihan tersebut dapat mendorong saya untuk terus meningkatkan pengetahuan kesejarahan selama menjadi mahasiswa doktoral. Saya bersemangat mendedikasikan waktu mengeksplorasi dan menganalisis arsip, sumber informasi yang menjadi amunisi penting dalam menyelesaikan studi tetap waktu dan memberikan kontribusi nyata pada pemberdayaan masyarakat pesisir, baik saat maupun setelah menyelesaikan pendidikan doktoral.

Rencana Jangka Pendek dan Panjang

Kuliah S3 adalah momen yang berharga untuk fokus pada peningkatan ilmu pengetahuan tanpa distraksi yang berarti. Rencana jangka pendek selama 4 tahun ke depan adalah menyelesaikan studi tetap waktu dengan kualitas yang baik. Pada tahun pertama, saya fokus pada perkuliahan dan penelusuran data untuk mendukung penulisan disertasi dan publikasi artikel di jurnal nasional maupun jurnal internasional bereputasi, yaitu Journal of Island and cultural. Tahun ke dua, fokus pada verifikasi, analisis, interpretasi data dan penulisan disertasi.  Tahun ke tiga fokus pada penulisan narasi sejarah dengan bingkai teoritik yang sudah mapan. Tahun keempat, memberikan deskripsi detail dan finalisasi. Sementara, rencana sekaligus cita-cita jangka panjang, yaitu 10 tahun ke depan adalah mendirikan museum alat tangkap ikan tradisional yang pernah eksis di Pantai Utara Jawa. Preservasi alat tangkap tradisional sangat urgen seiring dengan pergeseran alat tangkap tradisional ke modern. Preservasi ini juga menjadi bentuk apresiasi kita terhadap indigenous knowledge (pengetahuan lokal) yang telah diciptakan oleh para nenek moyang terbaik kita di masa lalu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top