Semangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad ke-19 | Mikihiro Moriyama

JudulSemangat Baru: Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad Ke-19 
PengarangMikihiro Moriyama
PenerbitanKepustakaan Populer Gramedia, Jakarta: 2005
Deskripsi Fisik350 Hlm : Ilus ; 21 Cm
ISBN978-602-9402-26-1
SubjekSejarah Sunda, Budaya Sunda, Sastra Sunda, Sejarah Sastra
KoleksiTarugiri.org

PENGANTAR

Saya pertama kali bertemu muka dengan penulis buku ini, Mikihiro Moriyama, pada 1982 di Bandung. Pada waktu itu ia adalah mahasiswa Osaka University of Foreign Studies yang akan belajar bahasa dan kebudayaan Sunda di Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Ia mendapat beasiswa satu tahun dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Dari beberapa kali pertemuan dan pembicaraan, saya mendapat kesan bahwa ia seorang pemuda yang sopan, rendah hati, dan ingin tahu segala yang berkaitan dengan yang sedang dipelajarinya. la sering mengatakan belum tahu apa-apa tentang bidang yang sedang ditekuninya, karena itu kerap mengajukan pertanyaan kepada siapa saja yang dipandangnya mengerti apa yang ingin ia ketahui. Menurut guru saya, orang yang bersikap demikian menandakan wadah ilmu dalam dirinya besar. Oleh karena itu, orang tersebut berpotensi menjadi seorang intelektual. Di dalam hati, saya pun menilai demikian kepada Mikihiro Moriyama ini.

Betapa tidak, gejala-gejalanya sudah tampak dan saya saksikan sendiri. Di samping mengikuti kegiatan perkuliahan yang formal, a memiliki pergaulan yang luas dengan berbagai kalangan masyarakat Sunda: sesama mahasiswa, sastrawan, pengarang, wartawan, seniman, redaktur, dosen, tokoh masyarakat, orang kota, dan orang desa. Pergaulan tersebut terutama dilakukan semasa ia bertempat-tinggal di Tatar Sunda untuk kedua, ketiga, dan kesekian kalinya. Tampaknya ia merasa tidak puas kalau tidak bertanya-jawab dengan mereka.

Tatkala untuk pertama kalinya ikut serta berkunjung ke kampung halaman saya di Kuningan, misalnya, Mikihiro Mori. yama segera masuk ke dapur ketika melihat di ruangan itu ada ibu saya. Di situ ia menanyakan nama berbagai macam alat yang biasa digunakan di dapur tradisional. Ibu saya yang hanya bisa berbicara bahasa Sunda menjelaskannya dengan gembira dan penuh keheranan. Begitu pula, spontan ia menyatakan keberuntungannya begitu keluar dari pendopo Kabupaten Kuningan setelah lama mendengarkan diskusi saya dengan Bupati Kuningan Unang Sunardjo tentang sejarah Cirebon dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. la pun mengungkapkan kegembiraannya setelah diajak serta dalam kegiatan pembuatan mikrofilm naskah-naskah Sunda kuno yang terbuat dari daun kelapa di tempat penyimpanannya di desa Cikadu, Kecamatan Kadugede, Kabupaten Kuningan. 

Suatu waktu, melalui surat yang dikirimkan dari Jepang, Mikihiro Morivama menyampaikan penyesalannya tidak tinggal di rumah saya ketika berada di Bandung. Padahal, katanya, kalau tinggal di rumah saya, ia akan dapat menimba ilmu lebih banyak lagi baik melalui percakapan langsung maupun melalui koleksi buku saya. Ketika berkesempatan datang ke Bandung berikutnya, ia benar-benar tinggal di rumah saya untuk beberapa waktu lamanya. Sudah barang tentu, apa yang ia dilakukan ketika berada dalam lingkungan saya, dilakukan pula ketika berada di lingkungan orang lain yang jumlahnya cukup banyak.

Tanpa terduga sebelumnya kami tinggal bersama-sama di Leiden, negeri Belanda pada 1988. la tetap menganggap guru dan orangtua kepada saya dan juga istri saya. Pandangan keilmuannya tampak mulai matang dan cukup banyak pengetahuannya mengenai Sunda dan Indonesia. la berniat melanjutkan studi Program Doktor di Universitas Leiden yang menjadi pusat studi Indonesia sejak dua abad yang lampau dan memutuskan untuk menjadikan bahasa dan sastra Sunda objek penelitian penulisan disertasinya. la selalu mengirim hasil studinya yang merupakan bagian dari disertasinya kepada saya. Pada waktu sidang ujian promosi doktornya, pada hari Kamis tanggal 26 Juni 2003, saya mendapat kesempatan untuk turut menguji. Menarik untuk dicatat bahwa selama satu jam sidang ujian itu dialog diselenggarakan dalam dua bahasa, yaitu bahasa Inggris dan bahasa Belanda. Sayang sekali keinginan saya dan promovendus untuk menggunakan bahasa Indonesia tidak diperkenankan oleh panitia ujian.

Buku ini adalah terjemahan disertasi Mikihiro Moriyama yang disusun sebagai tanda berakhirnya Program Doktor yang ditempuhnya. Objek studinya adalah kehidupan Bahasa dan sastra Sunda pada abad ke-19 yang dikaitkan dengan kegiatan intelektual, kebijakan pemerintah kolonial, penerbitan karya tulis, dan pendidikan bagi anak-anak Bumiputra. Ia menemukan semangat baru di dalamnya sehingga disertasinya itu, yang aslinya ditulis dalam bahasa Inggris, diberi judul A New Spirit: Sundanese Publishing and the Changing Configuration of Writing in Nineteenth-Century West Java. Memang selama in objek studi tersebut belum ada yang meneliti dan mengkaji secara khusus, mendalam, dan meluas. Yang sudah ada barulah berbentuk tinjauan, ulasan, dan singgungan secara selintas dan garis besar. Kaum cendekiawan Belanda yang berstatus pejabat pemerintah kolonial, penginjil, dan partikelir yang hidup pada abad itu baru menemukan bahasa Sunda sebagai bahasa mandiri yang memiliki kosa kata dan struktur tersendiri pada abad ke-19. Sebelumnya (abad ke-17 dan 18) yang dijadikan bahasa tulisan adalah bahasa Jawa akibat masuknya pengaruh budaya Jawa ke Tatar Sunda. Bahasa Sunda hanya digunakan sebagai bahasa lisan. Mereka tidak menemukan sastra Sunda sama sekali sehingga dikatakan bahwa orang Sunda tidak memiliki khazanah sastra. Patut dicatat bahwa pandangan mereka mengenai hal ini tidak seragam, melainkan diwarnai dengan berbagai perbedaan dan bahkan pertentangan.

Beberapa cendekiawan Sunda pernah mengungkapkan pendapat dan pandangannya tentang kehidupan bahasa dan sastra Sunda masa itu. R. Memed Sastrahadiprawira (1897-1932), seorang sastrawan, membantah pendapat yang mengatakan bahwa tidak ada sastra Sunda pada abad itu dengan mengajukan bukti karya sastra lisan. Dalam bukunya yang berjudul Kesusasteraan Sunda Dewasa Ini, Ajip Rosidi (1966) menuturkan sejarah sastra Sunda sejak masa awal hingga masa mutakhir pada awal 1960-an. Namun sebagaimana tampak pada judulnya, titik berat pembahasannya terletak pada kehidupan bahasa dan sastra Sunda mutakhir yang bermunculan sesudah 1945, sedangkan periode sebelumnya, termasuk abad ke-19, hanya diungkap sedikit, diulas secara selintas, dan belum dilihat dari berbagai aspek yang terkait. Berdasarkan khazanah naskah Sunda yang berhasil didatanya, Edi S. Ekadjati dkk. (1988) secara tersirat mengemukakan bahwa abad ke-19 merupakan masa peralihan dalam kehidupan naskah Sunda, yaitu peralihan dari masa transisi yang antara lain ditandai dengan lahirnya naskah-naskah berbahasa dan beraksara Jawa, berbahasa dan beraksara Arab, serta berbahasa Jawa dan beraksara Pegon yang dimulai pada abad ke-17 ke masa baru yang antara lain ditandai oleh lahirnya naskah-naskah berbahasa Sunda dengan menggunakan aksara Cacarakan, Pegon, dan Latin yang dimulai pada pertengahan abad ke-19. Beberapa hasil penelitian yang disponsori oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa serta Direktorat Jenderal Kebudayaan pada tahun 1970-an sampai 1990-an hanya mendata dan membahas sejumlah karya sastra Sunda yang lahir pada abad ke-19, tanpa membuat kajian yang luas dan mendalam yang berhubungan dengan berbagai aspek terkait lainnya. Di samping itu, diungkap pula identitas diri dan  karya tulis dua tokoh pengarang yang hidup pada abad ke-19, yaitu Raden Kanduruan Kertinagara (Raden Haji Muhamad Saleh) dan Raden Haji Muhamad Musa.

Sudah lama menjadi pertanyaan kami, orang Sunda, mengapa dalam catatan dan tulisan orang Belanda sebelum abad ke-19, seluruh penduduk dan bahasa yang ada di Pulau Jawa selalu disebut orang Jawa dan bahasa Jawa, sedangkan orang dan bahasa Sunda tidak pernah disebut-sebut? Jawaban yang kami kemukakan hanyalah jawaban spekulatif. Di satu pihak jawaban itu berhubungan dengan tradisi Belanda masa itu yang melihat Pulau Jawa dan pulau-pulau lain di Nusantara hanya dari geladak kapal atau dari benteng yang selalu terletak di daerah pesisir. Di sisi lain, diandaikan perhatian orang Belanda masa itu hanya terpusat pada dunia perdagangan untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya, dan belum merasa perlu memperhatikan masyarakat dan kebudayaan penduduk setempat secara sungguh-sungguh. Kini melalui penelitian dokumentaris Mikihiro Moriyama menemukan bahwa memang baru awal abad ke-19 orang Belanda menyadari dan mengetahui bahwa ada orang, bahasa, dan kebudayaan Sunda di bagian barat Pulau Jawa (Tatar Sunda) yang berbeda dengan orang, bahasa, dan kebudayaan Jawa. Sudah lama menjadi pertanyaan kami pula mengapa bahasa, sastra, sejarah, dan kebudayaan Sunda sedikit sekali diperhatikan dan diteliti oleh orang Belanda? Padahal terhadap bahasa, sastra, sejarah, dan kebudayaan Jawa banyak penelitian dilakukan. Kiranya jawabannya berkaitan dengan masalah tersebut di atas, di samping karena pusat kekuasaan dan kebudayaan di Pulau Jawa terletak di bagian tengah Pulau Jawa, yaitu di Yogyakarta dan Surakarta. Memang di bagian barat Pulau Jawa pun pada waktu mereka datang untuk pertama kalinya (1596) ada pusat kekuasaan dan kebudayaan di Cirebon dan Banten, namun lokasinya berada di pesisir utara dan kondisinya makin lama makin merosot tajam, bahkan Kesultanan Banten dihapuskan dan keratonnya diluluh-lantakkan pada 1809. Sementara itu, di daerah pesisir utara Tatar Sunda banyak masyarakatnya yang cenderung berbahasa Jawa dalam komunikasi sosialnya.

Karena itu agaknya bahasa, sastra, sejarah, dan kebudayaan Sunda dipandang berkedudukan di daerah pinggiran yang kurang berarti dan berwibawa, walaupun berbatasan langsung dengan Batavia yang menjadi pusat kekuasaan mereka dan secara ekonomi telah menolong mereka dari kebangkrutan total. Sesuai dengan sifat ilmu pengetahuan yang secara ideal selalu berupaya mencari penemuan baru agar selalu berkembang dan bertambah maju, dalam studi Mikihiro Moriyama pun sebagaimana tercermin dalam buku ini tampak upaya yang serius untuk mencari rangkaian penemuan baru yang saling berkaitan. Dalam hal ini menemukan temuan cendekiawan Belanda bahwa di Pulau Jawa bagian barat hidup suatu bahasa, yaitu bahasa Sunda yang memiliki ciri-ciri mandiri dan berbeda dari bahasa Jawa yang hidup di bagian Pulau Jawa lainnya. Penemuan ini kemudian dikaitkan dengan masalah sastra, aksara, karya tulis, jenis karangan, pembakuan bahasa, pendidikan anak Bumiputra, buku pelajaran, buku bacaan, cara membaca, percetakan, dan penerbit. Semua faktor tersebut diikat erat dengan satu tali yang kokoh yang disebut kebudayaan Barat dan kepentingan kolonial. Itulah sebabnya studi Mikihiro Moriyama bertitik-tolak dari pandangan kaum kolonial dan berakhir pada kreativitas dan kebijakan kaum kolonial pula, sedangkan kaum Bumiputra menjadi objeknya saja, walaupun dua orang Bumiputra (R.H. Muhamad Musa dan R. Kartawinata) ditampilkan sebagai tokoh pelaku utama bersama satu hasil karya tulisnya yang dipandang masterpiece, yaitu Wawacan Panji Wulung.

Sejarah membuktikan bahwa kebijakan pemerintah kolonial di atas bersama kebijakan-kebijakan lainnya (Sistem Priangan, Sistem Tanam Paksa, Politik Pintu Terbuka) memberi jalan bagi orang-orang Belanda secara individual dan lembaga untuk meraih keuntungan ekonomi yang luar biasa besarnya dari bumi dan keringat penduduk Indonesia. Memang pada masa itu penduduk Bumiputra pun kecipratan keuntungan dari kebijakan itu, betapapun tidak seimbang dengan jerih-payah dan pengorbanan yang mereka abdikan. Meskipun demikian, dalam jangka panjang dan tanpa diduga sebelumnya serta secara tidak langsung penduduk Bumpiutra mengais keuntungan yang tidak ternilai harganya, yaitu yang berhubungan dengan penentuan nasib dan status kehidupan keturunan mereka di masa depan.

Dampak positif yang diperoleh penduduk Bumiputra, dalam hal ini orang Sunda, dari kebijakan kolonial di bidang bahasa dan pendidikan dapat dikategorikan secara garis besar dalam empat hal, yaitu bahasa, alam pikiran, pendidikan, dan teknologi percetakan. Sejak abad ke-19 bahasa Sunda diakui secara formal keberadaannya oleh pemerintah (kolonial) dan disadari pentingnya oleh para penguasa Bumiputra (bupati dan jajaran di bawahnya). Selanjutnya, fungsi bahasa Sunda diperluas, bukan hanya sebagai alat komunikasi sosial secara lisan sebagaimana dialami dalam dua abad sebelumnya (abad ke-17 dan 18), melainkan juga sebagai objek penelitian ilmu bahasa, bahasa pengantar dan mata pelajaran di sekolah, dan media karya tulis. 

Dengan meningkatnya ragam fungsi bahasa Sunda tersebut, maka terjadilah diskusi, bahkan polemik, mengenai berbagai aspek yang diperlukan oleh kehidupan bahasa dan sastra Sunda sesuai dengan fungsi-fungsinya itu. Misalnya, masalah aksara rang digunakan untuk mewujudkan karya tulis berbahasa Sunda (Cacarakan, Pegon, atau Latin?), bentuk karangan yang dipakai (puisi atau prosa, fiksi atau non-fiksi?), perbanyakan karya tulis (naskah yang ditulis tangan atau buku tercetak?), buku pelajaran dan buku bacaan, isi buku bacaan, sampai tingkat pendidikan mana digunakan sebagai bahasa pengantar, pada tingkat mana sebagai mata pelajaran, dan siapa yang bertanggungjawab atas pencetakan, penerbitan, dan pendistribusian buku.

Berkat pengaruh budaya Barat, alam pikiran rasional merasuk ke dalam karya sastra Sunda dan anak-anak sekolah. Contoh yang tepat sebagai perintis karya sastra yang bercirikan pemikiran rasional adalah Wawacan Panji Wulung karya tulis R.H. Mohamad Moesa yang dianalisis secara khusus dalam buku ini. Sekolah-sekolah yang menjadi agen pembaharuan dan modernisasi dalam masyarakat Sunda dikirimi buku-buku terbitan pemerintah. Melalui teknologi percetakan suatu karya tulis dapat diperbanyak sampai ribuan eksemplar dalam waktu singkat, sedangkan melalui tulisan tangan hanya dapat dihasilkan beberapa eksemplar saja dalam jangka waktu cukup lama. Dengan cara demikian, penyebarluasan bahan bacaan makin terbuka dan dengan sendirinya pengetahuan dan wawasan penduduk Bumiputra, terutama kalangan mudanya makin luas.

Dampak jangka panjang yang positif bagi penduduk Bumi-putra adalah terbentuknya kesadaran sosial budaya di kalangan masvarakat Sunda. Mereka sadar dan bangga akan identitas sosial budaya diri mereka yang diwariskan oleh leluhur mereka, walaupun situasi dan kondisinya sangat memprihatinkan. Kesa-daran dan keprihatinan tersebut diwuudkan dalam bentuk mendirikan organisasi Paguyuban Pasundan yang bersifat sosial budaya pada 20 Juli 1913 di Batavia (Jakarta). Para pemimpin dan anggota organisasi in berupaya keras dengan cara-cara baru yang bersifat modern (menyelenggarakan kursus, penerbitan majalah, ceramah, diskusi, perpustakaan, dan lain-lain). Pada tahun-tahun berikutnya hasilnya telah mulai tampak berupa perubahan kecenderungan gay hidup di kalangan orang muda Sunda dari merasa ideal berbudaya Jawa menjadi ideal berbudaya Sunda. Perluasan tingkatan dan jenis sekolah melahirkan kaum intelektual muda yang menyadari akan nasib bangsa dan tanah air mereka dan pada gilirannya mereka bangkit untuk memaiukan dan kemudian membebaskan bangsa dan tanah air mereka dari kungkungan penjajahan. Tampillah gerakan kebangkitan nasional yang menuntut dan mengupayakan kemajuan dan kemerdekaan yang baru tercapai pada 1945.

Singkat kata, perubahan dan pembaharuan kehidupan bu-daya pada abad ke-19 telah membangkitkan kesadaran dan kebanggaan penduduk Bumiputra, termasuk orang Sunda, sebagai satu bangsa yang memiliki hak dan kewajiban setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia Barat yang sudah maju. Perubahan dan pembaharuan di kalangan masyarakat Sunda, menurut hemat saya, merupakan kebangkitan kembali orang Sunda, mula-mula (sejak pertengahan abad ke-19) dalam bidang bahasa dan sastra, kemudian (sejak tahun 1913) pada bidang sosial-budaya, dan akhirnya (sejak 1919) pada bidang politik. Dalam hubungan ini hasil studi Mikihiro Moriyama telah membuka mata kita tentang apa yang terjadi dan berkembang secara mendetail dalam salah satu bidang kehidupan masyarakat Sunda sepanjang abad ke-19. Pengetahuan tersebut akan memperjelas pemahaman perkembangan selanjutnya dan pertimbangan apa yang seyogyanya dilakukan sekarang dan masa datang.

Bandung, 8 Januari 2005

Edi S. Ekadjati

DAFTAR ISI

PENGANTAR

PRAKATA

Pendahuluan

LAHIRNYA SEMANGAT BARU

Latar Sejarah Bahasa dan Kebudayaan Sunda

Dalam bayang-bayang Jawa dan kolonial

Menata kembali kesadaran, meniti gelombang kemajuan

Susunan Buku

Bab 1 MENCIPTAKAN BAHASA DAN KESUSASTRAAN

Menemukan Bahasa yang Mandiri

Peta bahasa yang membingungkan

Terobosan Raffles dan Crawfurd

Ranting bahasa yang mandiri

Yang murni di antara yang mandiri

Dari aksara Arab dan Jawa ke Walanda (Latin)

Bahasa tanpa tulisan?

Tidak ada ‘kesastraan”?

Ilmu Pengetahuan, Kolonialisme, dan Kanonisasi Wawacan

Dangding dalam pandangan Belanda

Dangding bagi orang Sunda

Wawacan yang ditinggalkan

Bab 2 KONTEKS KELEMBAGAAN

Pengajaran Modern di Wilayah Penutur Bahasa Sunda

Sekolah untuk Bumiputra

Praktik pengajaran yang pragmatis

Buku-buku sekolah yang bermoral dan mencerahkan

Jaringan Percetakan dan Penerbitan

Buku-buku cetakan berbahasa Sunda

Pendataan buku-buku berbahasa Sunda

Landsdrukkerij

Usaha-usaha percetakan lainnya

Aksara Latin: ekonomis dan praktis

K.F. Holle

Wawacan cetak: paduan ganjil antara tradisi dan modernitas 127

Bab 3

MOEHAMAD MOESA SANG PELOPOR

Lelaki itu Bernama Moesa

Menak dan pemuka Islam yang mendahului zamannya

Dwitunggal: Moesa dan K.F. Holle Pengagum kolonial

Kesadaran bahasa

Di masa senja

Pengarang yang Mendahului Zamannya

Pengakuan

Tulisan Moesa: berjudul, rasional, dan loyal

Bab 4

MEMBACA WAWACAN PANJI WULUNG

Karya Besar yang Terlupakan

Antara kecaman dan pujian

Demi pelestarian budaya lokal

Penebar Modernitas

Gelombang kemajuan

Di antara tradisi dan modernisasi Panji Wulung, Si Elang Kembara

Jiwa-jiwa modern: bertumpu pada bukti dan nalar

Bab 5

PERUBAHAN KONFIGURASI TULISAN

Dua gelombang perluasan

Gelombang pertama: wawacan cetak

Di ambang gelombang kedua: terjemahan cerita Eropa

Carita Kapitan Bonteku

Kalimah, omongan, basa dilajur: prosa Baris aoseun diilo: dibaca dalam hati

Lahirnya Bentuk Tulisan Baru

Baruang Ka Nu Ngarora: novel Sunda pertama

Lembaga-lembaga pendukung

PENUTUP

LAMPIRAN 1

LAMPIRAN 2

LAMPIRAN 3

KEPUSTAKAAN

INDEKS

RIWAYAT HIDUP PENULIS

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top